dengar lagu jim-reevers. teringat dulu, masih zaman SD masih merasakan kalau natal itu adalah saat yang paling dinanti.saat ini juga paling dinanti tetapi berbeda motifasinya.dulu, akan adanya momen liturgis di sekolah dan di greja membuat kegiatan full dan waktu untuk bermain dengan teman-teman jadi lebih banyak.
di awal november sudah dapat informasi akan formasi liturgis dan ayat alkitab yang akan kita ucapkan pada saat perayaan itu.beberapa hari berikutnya akan dibagian ayat alkitab tersebut dan segera mencari di alkitab isinya apa dan menuliskannya, mulai menghapal dan menghapal.berharap nanti akan lancar tanpa tersendak sedikitpun.diikuti dengan musim-musim latihan, terkadang kita tidak menyukai orang-orang yang di barisan liturgis kita, tetapi harus terima tanpa mengurangi rasa semangat akan liturgi. saat yang dinanti-nanti akan segera tiba, kita dibekali dengan baju baru, spatu baru dan gaya yang tak ingin kalah hadir di greja maupun sekolah. dan pagi hari h, ada acara makan bersama, merupakan momen paling seru.dikumpulkan kayu bakar 2 potong tiap orang, cabai 10 buah, bawang 2, jahe dan rempah-rempah yang lainnya.tetapi itu semua tercukupi dan menjadi suatu kenikmatan tak tertandingi, walaupun daging yang kita makan tidak senikmat makanan restoran.
beralih ke masa SMP-SMA, sudah tidak zaman namanya ala anak anak, gengsi sudah tinggi, tetapi tetap masih ingin terkait dengan selebrasi natal ala pedesaan, dan selalu ingin menikmati apa yang dulu masih dinikmati ketika anak-anak.
tetapi setiap perayaan digreja, tak terlewatkan, setiap acara dimanapun akan dihadiri.untuk satu kata, momen natalku tak boleh terlewat dengan alasan hujan dan dingin, hanya ingin tinggal berdiam diri dirumah.
yang tak lekang dari itu semua, dari awal kita tidak punya pohon natal, tetapi ada “warisan” dari keluarga, tidak begitu bagus, tetapi tetap dimaksimalkan dengan menempel, memilih sisi yang paling bagus karena sebelah sisi sudah habis rontok.lampu juga warisan dimaksimalkan, berharap suasana natal dirumah ini akan semakin terasa.
pada akhirnya kita memiliki pohon natal hasil beli sendiri, karena memang yang dulu sudah tidak bisa dimaksimalkan karena sebagian sudah rontok dan tak berdaun.yang baru lebih bagus,lebih mudah ditata dan dipasang.menjadi tradisi untuk merangkai dan menghias pohon natal bersama mama, saudara.biarpun kecil dan simpel, tetapi itu menjadi waktu yang hangat menjelang natal.
tetapi dibalik itu semua, banyak kenangan ketika saat natal, dimana harus menyelesaikan pekerjaan di sawah, seiring latihan di gereja dekat rumah terdengar nyaring paduan suara. banyak persiapan-persiapan tetapi harus menyelesaikan semua pekerajaan yang ketinggalan, tidak apa, tetap semangat untuk menikmati saat natal bersama-sama
saat ini, apakah aku harus bekecil hati lagi untuk ketiga kalinya? harus bersedih karena ber-natal jauh sendiri tanpa kedua orangtua dan saudara yang lainnya?apakah momen natal yang dulu sering dilaksanakan bersama bisa menjadi kenangan penghibur hati tanpa menciptakan sedikit rasa sedih? sebenarnya sudah terjadwal harus pulang, ingin melihat momen-momen natal yang dulu sering saya lalui.tetapi, sepertinya akan tertunda lagi, should be my blue christmas? hopely i can home for christmas…